MediaKeadilan.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) pada saat ini membuka peluang demi menciptakan inovasi dan pertumbuhan di berbagai subsektor ekonomi kreatif Indonesia.
Berdasarkan data Keaparatur negara kementerianan Ekonomi Kreatif, sektor ekonomi kreatif berkontribusi makin dari Rp 1.500 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2024.
Berangkat dari sana, CapCut menggelar kompetisi dan festival film pendek berskala nasional yang merayakan kreativitas dan talenta kreator Indonesia. lewat AI Content Fest 2026.
Dengan tema ‘Small Stories. Big Screen. One Nation’, festival ini menampilkan 10 karya terpilih dari kreator berbagai daerah di Indonesia di layar lebar CGV Grand Indonesia (ScreenX), Jakarta.
Festival film pendek berbasis AI perdana dari CapCut ini mengajak kreator beruntuk cerita tentang Indonesia mengawali dari identitas dan budaya, kehidupan sehari-hari, hingga pengalaman dan harapan tentang bangsa. Dengan memanfaatkan berbagai fitur penyuntingan berbasis AI di CapCut, para kreator mengembangkan cerita tersebut menjadi karya film pendek.
Head of Content Operations CapCut Indonesia, Jessica Wowor menegaskan bila Indonesia punya begitu sejumlah cerita dan talenta kreatif yang layak memperoleh panggung makin besar.
“Melalui AI Content Fest 2026, kami ingin menolong kreator mengangkut perspektif mereka ke layar lebar dan membuka makin sejumlah kesempatan agar karya lokal dapat dikenal dan diapresiasi makin luas,” katanya, dikutip Selasa (15/9/2026).
Sepuluh karya yang tampil pada AI Content Fest 2026 menghadirkan berbagai cerita dari ragam latar belakang, pengalaman, dan karakter yang menggambarkan kekayaan nusantara.
Dalam proses pengembangannya, para finalis memanfaatkan sejumlah solusi bagaikan CapCut Video Studio dan berbagai fitur kreatif di dalam aplikasi, termasuk fitur berbasis AI, demi mengeksplorasi ide dan visual mereka.
Pada acara puncak, setiap film diputar secara bergiliran di layar lebar dan lalu mendapat penilaian serta tanggapan langsung dari lima tersangka industri kreatif, yakni Angga Dwimas Sasongko, Mouly Surya, Upie Guava, Dinda Prasetyo, dan Gustav Anandhita.
Dengan sesi tersebut, para finalis tidak cuma memperoleh kesempatan demi memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang makin luas, namun juga menyambut baik perspektif dan masukan langsung dari para profesional industri atas ide, visual, hingga penyampaian cerita dalam film mereka.
Jessica mengaku pihaknya ingin kreator menyaksikan CapCut bukan sekadar sebagai alat demi menyunting video, namun sebagai ruang demi mengeksplorasi ide dan mengangkut kreativitas mereka makin jauh.
“Lewat berbagai fitur kreatif, termasuk fitur berbasis AI, kami ingin menolong kreator berupaya format, visual, dan cara bercerita yang makin ambisius—termasuk untuk mereka yang ingin berkembang ke ranah film dan hiburan,” paparnya.
CapCut sendiri menghadirkan solusi penyuntingan video terpadu demi mendukung berbagai kebutuhan kreasi mengawali dari video, audio, teks, hingga visual dalam satu aplikasi.
Kreator dapat memanfaatkan beragam fitur bagaikan trimming, transitions, keyframes, filters and effects, templates, auto captions, text-to-speech, background removal, hingga audio enhancement, serta fitur berbasis AI demi menolong pengembangan ide dan storyboard, eksplorasi visual, hingga proses produksi dan penyempurnaan hasil akhir.
CapCut juga menerapkan berbagai langkah transparansi, bagaikan tanda air tak kasatmata (invisible watermarks) dan Kredensial Konten dari C2PA, agar kreator dapat makin mudah berkreasi secara bertanggung jawab.
Selain melalui pengembangan produk, CapCut juga terus membuka ruang untuk talenta kreatif Indonesia melalui berbagai inisiatif bagaikan CapCut Gala, Creator Lab, dan CapCut Creative Partner (CPP).
Berbagai inisiatif ini menyerahkan kesempatan untuk kreator demi mengembangkan kemampuan, bertukar pengetahuan, mengeksplorasi tools kreatif, memperoleh apresiasi, serta mengangkut karya mereka kepada audiens yang makin luas.
