MediaKeadilan.com – PT SMPlus Digital Investama (SM+) memperluas bisnis infrastruktur digital bersama mengakuisisi bisnis data center enterprise milik Princeton Digital Group (PDG) di Indonesia.
Transaksi ini mencakup lima fasilitas data center yang telah beroperasi di sejumlah kota, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru.
Melalui akuisisi tersebut, SM+ akan mengoperasikan total 31 fasilitas data center di 25 kota di Indonesia.
Langkah ini memperkuat jangkauan korporasi di tengah meningkatnya kebutuhan kapasitas penyimpanan dan pemrosesan data, adopsi cloud, serta transformasi digital korporasi.
SM+ mengumumkan telah menandatangani perjanjian definitif demi transaksi tersebut pada 12 Oktober 2026.
Namun, proses akuisisi masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan penutupan transaksi yang berlaku umum.
President Director & Group CEO SM+ Holdings, Herson Suindah, menyebutkan penambahan lima fasilitas tersebut menjadi untukan dari strategi korporasi membangun platform infrastruktur digital berskala nasional.
“Akuisisi ini menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan kami membangun platform infrastruktur digital nasional terdepan di Indonesia. Dengan bertambahnya lima fasilitas di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Pekanbaru, kami memperluas jangkauan nasional serta memperkuat kemampuan kami dalam melayani pelanggan seiring komitmen kami demi terus mendukung ekonomi digital Indonesia,” terang Herson.
PDG Alihkan Fokus ke Data Center Hyperscale
Di sisi lain, transaksi ini menandai perbedaan fokus pengembangan bisnis kedua korporasi. SM+ memperluas platform data center enterprise, sementara itu PDG menegaskan akan terus memusatkan perhatian pada portofolio data center hyperscale di Indonesia.
Chief Operating Officer sekaligus Co-Founder PDG, Varoon Raghavan, menyebutkan Indonesia telah menjadi pasar penting untuk korporasi sejak 2019.
PDG semasih belumnya mengakuisisi fasilitas kelas enterprise sebagai untukan dari strategi enter-and-expand, yakni memasuki pasar melalui aset yang telah ada semasih belum memperluas bisnis.
Setelah itu, korporasi mengembangkan portofolio data center hyperscale di Indonesia hingga sekitar 400 MW.
“Fokus kami akan tetap berpusat pada pengembangan portofolio hyperscale tersebut (termasuk kampus JC2, JC3, dan JC4, bersama ekspansi makin lanjut yang sedang berjalan) serta memperkuat posisi kepemimpinan kami di Indonesia,” kata Varoon dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2026).
Dengan demikian, pelepasan bisnis data center enterprise tidak berarti PDG meninggalkan pasar Indonesia.
