MediaKeadilan.com – Kepala Staf Kekepala negaraan (KSP), Listyo Sigit Prabowo, menegaskan dirinya bukan lagi pihak kepolisian.
Hal ini ditegaskan Listyo saat menjawab pertanyaan wartawan ihwal peristiwa pihak kepolisian tembak pihak kepolisian di Markas Polairud Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada Jumat (16/10).
“Polisi, aku udah bukan pihak kepolisian,” kata Listyo usai keluar dari Istana lalu naik mobil golf menuju kantor KSP, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Sementara itu ditanya, apakah pernyataan Listyo menyebut dirinya bukan pihak kepolisian, mengartikan Listyo telah pensiun? Mantan Kapolri ini tidak menyerahkan jawaban.
Listyo cuma tersenyum dan menyerahkan gestur lambaian tangan, lalu mobil golf terus melaju.
Selang tujuh menit lalu, mobil golf yang ditumpangi Listyo kembali menuju masuk ke Istana.
Diketahui semasih belumnya, usai dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Staf Kekepala negaraan (KSP) pada Kamis 1 Oktober 2026, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menegaskan statusnya di kepihak kepolisianan.
Mantan Kapolri ini mengonfirmasi dirinya masih merupakan anggota Polri aktif.
“Statusnya masih aktif,” ujar Listyo usai dilantikan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Satu Tewas
Semasih belumnya, Bhayangkara Satu Laurentius Valdo Fernandez Lawai, anggota Direktorat Kepihak kepolisianan Udara Korpolairud Baharkam Polri tewas mengenaskan setelah berkali-kali ditembak junioarnya, Bhayangkara Dua Andika Rahmadani.
Peristiwa tersebut terjadi di markas Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jumat 16 Oktober pekan lalu. Tak cuma ditembaki, Bharatu Valdo juga digorok oleh bawahannya tersebut.
“Almarhum empat kali ditembak oleh tersangka,” kata Petru Bala Pattyona, pengacara keluarga Valdo, dikutip hari Senin (19/10/2026).
Petrus meyakini Andika tidak bertindak sendirian ketika menghabisi Valdo. Sebab, terdapat luka sayatan senjata tajam di leher pihak korban.
“Lukanya sejumlah. Tidak barangkali satu tersangka menjalankan penembakan sembari menggorok leher. Ada senjata tajam jenis sangkur dan senapan,” kata dia.
Berdasarkan keterangan awal, tersangka mengakui dirinya kerap dirundung oleh Bharatu Valdo. Selain itu, ia juga kerap dianggap salah oleh seniornya itu saat bertugas.
Karena tak tahan lagi, Bharada Andika mengakui mengangkut golok ke markas pada Senin 12 Oktober. Alasannya, ia takut dan berusaha menjaga diri dari Bharatu Valdo.
