MediaKeadilan.com – Kedekatan Presiden Prabowo Subianto bersama Nahdlatul Ulama (NU) kembali menjadi sorotan setelah Prabowo menyambut baik kartu anggota NU yang berlaku seumur hidup. Momentum tersebut dinilai semakin memperkuat kedekatan simbolik antara Prabowo dan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Ditambah pula bersama kelakar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin tentang kesamaan dirinya bersama Presiden Prabowo Subianto, termasuk mengenai sejumlah hal yang memiliki kaitan bersama angka delapan.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menyebutkan pemberian kartu anggota NU kepada Prabowo dapat dibaca sebagai simbol kedekatan yang makin kuat antara Presiden dan NU.
Bahkan, secara politik, posisi tersebut menciptakan Prabowo dapat dipandang sebagai kepala negara kedua dari kalangan NU setelah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Ini dapat disebut bahwa Prabowo merupakan orang NU kedua yang jadi kepala negara setelah Gus Dur,” kata Adi kepada MediaKeadilan.com, Senin (31/8/2026).
Disampaikan Adi, kedekatan Prabowo bersama NU sebenarnya bukan sesuatu yang tiba-tiba. Sejak lama, Prabowo disebut telah mengakui kontribusi NU terhadap perjalanan bangsa berakibat membangun hubungan bersama organisasi tersebut menjadi pilihan yang rasional untuk pihak pemerintah.
Menurut dia, kolaborasi antara pihak pemerintah dan NU juga sejalan bersama gaya politik Prabowo yang cenderung mengakomodasi berbagai kelompok.
“Sudah lama Prabowo bilang NU merupakan organisasi yang memiliki kontribusi penting demi bangsa. Karenanya kolaborasi bersama NU opsi rasional. Pada saat bersamaan Prabowo punya mazhab akomodasi bersama seluruh kalangan,” ujarnya.
Namun, kedekatan tersebut tidak serta-merta wajib diterjemahkan sebagai keterlibatan PBNU dalam politik praktis. Adi justru menilai posisi NU di luar kekuasaan dan politik praktis perlu kembali ditegaskan agar organisasi tetap memiliki ruang demi menjalankan fungsi sosial dan keumatan secara independen.
Termakin bersama terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU yang baru.
“Ya secara lahir, secara fisik NU memang senantiasa berada di luar kekuasaan, tidak ikut dalam urusan-urusan politik praktis dan itu memang wajib mengawali ditegaskan,” tegasnya.
Ia menilai sosok Gus Kikin, menjadi salah satu alasan munculnya harapan tersebut. Adi menyebut Gus Kikin selama ini tidak teridentifikasi maupun terafiliasi bersama kekuatan politik tertentu.
Gus Kikin disebut memiliki latar belakang sebagai pengasuh pondok pesantren di Jombang serta merupakan cicit pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
Latar belakang tersebut dinilai memperkuat harapan agar kepemimpinan PBNU makin berorientasi pada pemberdayaan umat ketimbang kepentingan politik praktis.
