Kerja Sama Ekonomi Kreatif dengan Tiongkok, Wamen Ekraf Dorong Talenta Lokal Akses ke Pasar Global

admin
By admin
4 Min Read

baca 10 detik

MediaKeadilan.com – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar menginginkan talenta lokal dan intellectual property (IP) Indonesia dapat semakin mengakses pasar global lewat kerja sama ekonomi kreatif bersama Tiongkok.

Irene menyebutkan penguatan kerja sama ekonomi kreatif Indonesia bersama Tiongkok melalui PT Panda Investama Semesta wajib diarahkan tidak cuma pada pertukaran teknologi, namun juga pada pengembangan kapasitas talenta, produksi konten, sertifikasi, hingga pembukaan akses pasar internasional.
 
“Kami ingin talenta Indonesia tidak cuma menjadi untukan dalam ekosistem global, namun sebagai kreator utama yang mengangkut cerita, budaya, dan IP Indonesia ke panggung dunia,” kata Irene dalam keterangan yang diterima, Kamis.
 
Dalam penjajakan kerja sama tersebut, Keaparatur negara kementerianan Ekraf menyaksikan tiga potensi utama yang dapat dikembangkan bersama Tiongkok, yakni internasionalisasi talenta dan IP Indonesia, pengembangan konten kreatif berbasis artificial intelligence (AI), serta pembangunan ekosistem esports.
 
Menurut Irene, upaya memperluas pasar talenta kreatif Indonesia perlu diawali bersama pemetaan kebutuhan yang makin spesifik. Kejelasan mengenai kriteria dan kompetensi talenta yang dibutuhkan akan menolong proses matchmaking bersama mitra internasional berjalan makin tepat sasaran.
 
“Penting demi memperjelas kriteria talenta yang ingin dikembangkan. Dengan begitu, proses matchmaking dapat dilakukan bersama tepat lantaran setiap negara yang datang ke Indonesia tentu memiliki kebutuhan yang amat spesifik,” ujarnya.
 
Di tengah pesatnya perkembangan AI, Irene juga menekankan pentingnya mengonfirmasi teknologi tersebut digunakan demi meningkatkan kapasitas dan produktivitas kreator tanpa mengabaikan perlindungan terhadap karya dan identitas mereka.
 
Menurut dia, perlindungan terhadap hak atas karya, wajah, suara, dan identitas talenta Indonesia perlu menjadi untukan dari pembahasan dalam setiap penjajakan kerja sama berbasis AI.
 
“AI wajib dimanfaatkan sebagai alat demi memperkuat kemampuan kreator dan meningkatkan produktivitas, namun pada saat yang sama wajib ditentukan hak dan perlindungan terhadap talenta Indonesia,” katanya.
 
Sementara itu, Tiongkok dinilai dapat menjadi salah satu akselerator untuk talenta Indonesia demi memperoleh eksposur dan akses ke pasar internasional. Pengalaman sejumlah talenta Asia Tenggara yang terlibat dalam program hiburan di Tiongkok memperlihatkan peluang peningkatan eksposur, basis penggemar, hingga pengenalan IP di pasar yang makin luas.
 
Namun, peluang tersebut dinilai perlu didukung manajemen talenta, strategi pasar, serta mitra industri yang tepat.
 
Produser Walker yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyebutkan Tiongkok dapat berperan sebagai pintu masuk untuk talenta dan IP Indonesia menuju pasar global.
 
“Tiongkok tentu dapat menjadi negara akselerator internasional. Kami ingin menyaksikan bagaimana Indonesia dapat menjadi basis para kreator dan ekspor IP, pusat produksi serta distribusi konten ke pasar global,” ujarnya.
 
Menurutnya, ekspansi global tersebut tetap perlu mempertahankan identitas Indonesia sebagai kekuatan utama produk kreatif.
 
Selain internasionalisasi talenta dan IP, penjajakan kerja sama juga mencakup pengembangan pelatihan dan sertifikasi produksi konten, pusat IP, serta akses distribusi global.
 
Irene menyambut baik peluang tersebut dan menekankan pentingnya menerjemahkan kerja sama ke dalam program yang konkret dan terukur. Untuk itu, Keaparatur negara kementerianan Ekraf akan melanjutkan pembahasan melalui tim teknis bersama mitra terkait guna memetakan bentuk kolaborasi yang dapat dalam waktu dekat direalisasikan.

Artikel ini telah tayang di sumber aslinya. Baca selengkapnya di Sini

Share This Article